Seventh Poem

Pembiasan Hati


Ketika ada biasan cahaya menerjang dengan frekuensi
Tak terhingga bagai batin yang dengan beban kepenuhan depresi
Sistemasi akut yang tak bahkan cadas dimakan rayap-rayap imaji
Ia pasti menerangi, seindah matahari pagi

Merasa tak peduli bukanlah kerja hati
Tetapi pembiasaan oleh otak dan sikap yang tak tahu diri
Ironi angkuh yang merasa gagah gengan genggaman sendiri
Kenapa caci, terus menerus membias dan menyakiti

Kulihat tadi,
Kriminalisasi terus marak sehari-hari
Baik yang selebriti, mereka yang duduk dan berdasi, pun juga bahkan yang bersarung peci
Demi menyenangkan hati, tapi dengan cara tak tahu diri

Mengutarakan kesenangan, melontarkan kebencian
Disemogakan hati agar menyenangkan
Pura-pura lupa, berpura gila, bahwa kain kafan sedang dirajutkan
Ini bukan hinaan, hanya nasihat untuk lebih ingat dengan dekatnya kita dengan kematian.


Februari, kala derasnya hujan Jakarta 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Twenty Fourth Poem

Eight Poem

Second Poem