Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Fourteenth Poem

Rindu; Kontaminasi Hati Kala rindu mengkontaminasi hati Kepada sosok dengan integritas tinggi pada ilahi rabbi Termangu-mangu hingga malam sunyi Munajatlah lagi, agar lebih suci
Kala rindu mulai menjadi-jadi liarnya Perangai anggun lagi-lagi membayangi datangnya Ya Allah, rupanya aku jatuh cinta Unggahkan petunjukMu agar aku tidak dibinasakan fana
Sepatutnya jika jatuh cinta Dekati dulu pemiliknya, Allah jalla wa 'ala Kemudian dekati yang dimilikiNya Pun keberkahan menaungi sesiapa yang diradang rindu hatinya

April. Kala derasnya hujan malam ahad Lhokseumawe 2016

Thirteenth Poem

Munajat Gila
Terlalu mula, sudah lama tak pernah kurasa Hati yang harusnya buta akan nama seorang wanita Tapi entah mengapa itu terucap saja dalam do’a                                       Tidak disengaja, batin membisikkannya
Sebenarnya aku sudah benci akan jatuh cinta Mengawang-awang sosoknya yang bahkan belum tentu izinNya Tapi hati ini memaksa untuk merindunya Hingga aku tersiksa, tak tau harus berbuat apa selain mendo’akan namanya
Bodoh, gila! Itu bukan rindu, bukan pula cinta Diam saja, jangan bercerita, jangan lagi ada kata-kata tentangnya Ini belum saatnya, nanti juga belum tentu ia
Nelangsa, Jangan lagi mendoakan namanya Doakan, pinta saja akan sosok seperti ia Ilahi pasti mendengarnya
Cendala, karena masih berkelabut dosa
April, kala gerimis langit malam Banda Aceh 2016

Twelveth Poem

Proposalisasi Kelajangan
Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Tanpa sepengetahuan, selalu aku kekaguman Bukan paras yang menawan, namun tutur laku yang sangat takut pada Tuhan Kulihat aku, malu mengajakmu untuk menatapi bulan
Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Karena aku bukan jutawan, jauh dari rupawan, kadang makan ku mie instan Sibukku hanya membolak-balik bebukuan tebal berhalaman Kadang Bingung dengan fasihnya huruf dho yang Nabi ucapkan Sekedar menyimak apa yang anak2 bacakan, itu lah keseringan
Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Kepada Sang Rahman, kuceritakan engkau agar bersamaku dipelaminan Kepada ayahmu, bukan kutawarkan engkau akan kebahagiaan, atau meniti dengan sama2 berjuang menerjal kehidupan
Ayahmu tidak bisa dikecewakan, bersusah payah peluh2 keringat ia keluarkan untukmu putrinya yang ia banggakan Sedang aku, menawarkan perjuangan di medan pertempuran,  tentu ia khawatir aku tak mampu bertahan.
Duha…

Eleventh Poem

Dawai Sendu
Kala malamku adalah sajak-sajak sendu Bait-bait katanya pun pilu Alunannya dipeluk rindu Gemintangnya tersosok bayangan di relungku
Betapapun hati ini pilu Inginku tetap pada simponi gelapku Seperti biola yang dimainkan gadis kecil itu Perlahan, alunan dawainya syahdu, menenangkan batinku
Eloknya ia memainkan biola yang dipeluknya Pun senyumnya, sesiapa meleleh menatapnya Lembut jari kecilnya memadu nada Tanpa sadar sang lunar mengajak gemintangnya untuk bersenandung bersama
April, kala bertaburnya gemintang Sabang 2016

Tenth Poem

Hampir setiap detik lagi
Pemajangan eloknya wajah terus diganti
Raut-raut imut lucu hingga aurat pun ikut disuguhi
Pun liarnya mata lelaki, betahnya ia pelototi

Ngakunya muslimah sejati, 
dengan alis asli, 
tak akan luntur meski sudah wudhu berkali-kali
Ya ampun saudari, hati-hati, Allah memuliakan, menjujnjungmu tinggi, 
di AlQuran, lihatlah, tidak ada namanya surat lelaki. 
Jangan sampai mendapat hinaan nanti, 
itu pedih sekali.
Bukan aku sudah terlalu suci dan tak bisa berdosa lagi.

Tapi, tolonglah mata ini, dengan tidak menyuguhkan lagi, pose-pose seksi, itu cantik sekali, kuakui.
Tolong lagi, agar mata ini tidak liar menatapi, Keindahanmu hanya untuk sang suami yang telah halal nanti. berhijablah yang rapi, yang syar'i, yang Allah ajari. Bukan seperti selebriti. Cobalah mempelajari, perlahan, tapi pasti, janji.


Februari, kala terangnya Bulan Bekasi.

Ninth Poem

Tertegun sejenak
Tertegun sejenak
Bagaimana menghempas segala kepenatan yang terus menjerat
Gunungan amarah yang seharusnya sudah pecah, kembali ditimbangi
Untuk apa semua ini? Kenapa hina akan ironi? Termangu sejenak
kenapa kau masih saja ceroboh dalam betindak, padahal jarakmu akuratnya pun tidak
hendak kemana lagi ini akan dihempas luluh lantakkan, kerahkan teriakan tidak akan mempan
lantas bagaimana? Apa yang harus kuhancurkan? Wajah siapa yang haus dihujam kaki kanan? Lantas mendongak
itu semua kebencian, perhatikan wajah-wajah yang terbahak, raut-raut senyum manis
-damaikan? 
dedaunan juga, tetap tenang meski angin senantiasa menerjalnya
salahmu sendiri, untuk apa mencintai dengan dini
rindu-rindu konyol selalu ditulisi, Itu nanti.
perbaiki, perbaiki, perbaiki.
Imanmu sudah lagi rongsok dan beduri
nelangsa, dosa gila itu mintalah ampun-Nya

Maret, kala gerhana matahari Langit Bekasi.

Eight Poem

Rinduinya.
Temaram langit syahdu bersahaja Gumpalan  awan gelap terkikis sirna Walau rembulan masih malu membias senyumnya Relungku juga, rindu seperti biasanya
Pilu akan  di pucuk bersegera Jika jeruji rindu terus saja menghempas perihnya Gemintang saja terabaikan di jauhnya Bagaimana senja?
Terusikkan istiqamah yang harus selalu ku ada Berjumpa, tertawa, itu tak boleh menggoda Enyahkan senyuman-senyuman yang menjelma Mampuku, agar terus berdo’a, akan gubahan ceria seketika
Karena merindunya Bukanlah sekarang saatnya Pun dia, mungkin merindukan sosok lainnya Atau  Allah menyiapkan jelmaan sempurna dari segala do’anya

November, kala temaramnya langit malam Jakarta.

Seventh Poem

Pembiasan Hati
Ketika ada biasan cahaya menerjang dengan frekuensi Tak terhingga bagai batin yang dengan beban kepenuhan depresi Sistemasi akut yang tak bahkan cadas dimakan rayap-rayap imaji Ia pasti menerangi, seindah matahari pagi
Merasa tak peduli bukanlah kerja hati Tetapi pembiasaan oleh otak dan sikap yang tak tahu diri Ironi angkuh yang merasa gagah gengan genggaman sendiri Kenapa caci, terus menerus membias dan menyakiti
Kulihat tadi, Kriminalisasi terus marak sehari-hari Baik yang selebriti, mereka yang duduk dan berdasi, pun juga bahkan yang bersarung peci Demi menyenangkan hati, tapi dengan cara tak tahu diri
Mengutarakan kesenangan, melontarkan kebencian Disemogakan hati agar menyenangkan Pura-pura lupa, berpura gila, bahwa kain kafan sedang dirajutkan Ini bukan hinaan, hanya nasihat untuk lebih ingat dengan dekatnya kita dengan kematian.

Februari, kala derasnya hujan Jakarta 2016

Sixth Poem

Nyata-mimpikan
Layaknya mimpi, menikmati eloknya Ia hanya memori dengan jangka kapasitas yang segera untuk sirna Betapa pun, susah untuk mencerna ulang detail segala adegan-adegan sempurnanya Karena selalu biasanya atau kadangkala, mimpi adalah bualan2 yang sangat jelita tapi lincahnya segera binasa Adalah aku mencoba mengkisahkannya Tapi, ukirannya hanya riak-riak yang ada
Dalam riak-riak itu mimpiku Ingin menciptakan sebuah lagu dan kunyanyikan dengan nada menuju Gubahan suara melodiku, tidaklah merdu Untuk menyenangkan lamunanmu, malah merusak indra pendengarmu Tak layaklah aku
Bait-bait lrik rinduku selalu sendu, terabaikan Kuenyahkan Celikanmu mengukap kebosanan Kuamarahkan, Nyatanya, ini mimpi bukan?
Januari, kala dinginnya kabut Bogor.

Fifth Poem

Indonesia-ku.
Ketika aku adalah sosok berwarna kayu Terlahir di tanah yang terindikasi rindu Hijau, menjuta keindahan yang tak akan layu Tak hanya aku, pun kamu mengirup segarnya keindahan itu
Walau aku, sosok berwarna kayu Terusik oleh hama-hama pengganggu Luput di kebekuan pedalaman yang amat sendu Kuluapkan selalu bangga akan eloknya negeriku
Walau, lagi lagi aku Sosok berwarna kayu Terabai dalam seringmu Teraneh bagi kulturalmu Selalu penyedia demi kenyangnya segala butuhmu
Enyahkan stigma-stigma basi itu Peduli apa aku Inilah bakti akan cinta pada anah airku Selalu, untuk Indonesiaku.

Januari, kala dinginnya kabut Bogor.

Fourth Poem

hari-mu.
Rehatnya sekarangku Damai pun syahdu tanpa lagi gigitan pilu Enyahkan saja kutu-kutu pengganggu Tapi sesuatu, terus menghantam benakku
Tersirat di hamparan lubukku Akan hangatnya dekapan itu, belaian itu, kecupan itu Penumpas segala semesta pilu Terukir jelas wajah lembut itu
Astaghfirullah batinku Sosok utama penyedia segala ada  menjadi abai di sekarangku Nama yang seharusnya terlisankan kala setiap rawatibku Petuah-petuah jitu, pemompa semangatku, membatu kaku direlungku
Namun kini bumi merampasnya dariku Padahal hangatnya harumnya dekapan yang lebih kokoh dari apapun masih terus menjadi inginku Bisakah aku mengetuk surga itu? Ridhokah dia padaku? Termaafkah semesta salahku?
Allahku, Ampunkan aku, ampunkan sosok penyejuk qalbu itu Pertemukanyalah denganku , di hari yang penuh dengan kuasamu Bukan sesiapa aku tanpa belaian hangat itu
Patutnya rasulmu menganjurkanku, Pun setiap insan yang keluar dari rahim itu Agar memohonkan ampun untuk bidadari itu Ibu, ibu, ibu
Oktober, kala derasnya hujan Jakar…

Third Poem

Cinta, Ini-sialnya.
Kuutarakan sesuatu yang biasa terhirup
Kadangkala, biasanya sesuatu itu sering kali buat jantung kencang berdegup
Menjadikan apapun menjadi benderang atau meredup
Menghinakan, pun memuliakan sesiapa yang dikecup


Cinta inisialnya
Bangsa keturunan dari kerajaan hati asalnya
Ia juga sepertinya sedarah dengan rindu namanya
Penghasil dopamin-dopamin ekstra membuat sesiapa Gembira terbuainya


Cinta sangat sensitif perangainya
Walau ceria bersamanya, Benci selalu ingin memakannya
Karena benci adalah teman nafsu namanya
Pun cinta, adalah sasaran yang mudah dilahapnya


Hati-hatilah dengan cinta
Jangan mudah menjatuhkan ia
Jaga, doa, pada sang pemilik cinta



Berikan padaNya cinta, maka terpeluklah dalam kasihNya, dan kekasih dengan cinta dari sang Pemilik cinta azza wa jalla


Februari, kala hingar-bingarnya Bekasi.

Second Poem

Beast mode: ON!
Kuutarakan sebenarnya
Hampir saja kulindas betisnya
Berlagak seolah ia Miss Indonesia,
Padahal hanya Miss dunia yang salah dipanggil namanya


Pun pria disebelahnya,
Tertawa dengan taring palsu agar seperti ganteng-ganteng serigala
Padahal, kera lebih mirip dengan wajahnya
Hanya ekornya saja yang diselipkan disakunya


Kawanan disekitarku juga,
Lapar saja yang ada dibenaknya
Kuhempaskan saja laptopku yang mati tiba-tiba ke mukanya
Hhaaaaaargh, ada ada saja, kenapa harus muncul lagi wajahnya?


Semuanya menjadi aneh pada dasarnya
Frekuensi tidak lagi melengkung gelombangnya
Karena diseruput oleh hidung pria itu ujungnya
Pergi saja, terjal semuanya, aku bukann gila, otakku berlebihn muatan hal-hal tak berguna


Alunan-alunan sendu menjadi alay suaranya
Poni sang penyani menutupi wajah hingga melilit lehernya
Menghitam kulitnnya, cempeng suaranya



Haaarrgh, istighfar, istighfar, itu yang kubutuh sebenarnya.


Desember, Kala teriknya Jakarta 2015

First Poem

PadaHarimu, Yang selalu terbenak tanpa ucapku, Namamu, Satu Terus saja di kala munajatku Teruntuk dikau, ibu, ibu, ibu.
Dalam sekarangku Tertera selalu disegala rautmu Tak ada hentinya mendo’akanku Di kesahmu, senangmu, pun tangismu karena kelakuanku hingga memekikkan pilu Sosok aku yang tak pernah patuhi petuah saktimu, dulu Kala jatuh, ku serapahi diriku yang tak tahu malu Kusesali apapun sebab abaiku padamu Hingga sirnakan bongkahan angkuhku kala jatuh air matamu Juga Allah melalui kuasaNya menitipkan ridho padamu
Dalam sekarangku, Meski tak ada kuasa untuk memelukmu, mengecup punggung tanganmu, tenang dalam dekapanmu Izinkan aku mengetuk surga itu Maafku, tak peduli jika semuanya hanya mengungkapkan kata itu dihari ibu Janjiku untuk selalu bercerita pada Ilahi setelah rawatibku Rindu menduri terus menusuk akan dekapan lembutmu Jika tak lagi di dunia ini bersamamu, menemuimu Di surga sana, yang berantahnya waktu itu Lagi memelukmu, itulah semogaku


Dalam kerudung pilu, anakmu satu.