Ninth Poem

Tertegun sejenak


Tertegun sejenak
Bagaimana menghempas segala kepenatan yang terus menjerat
Gunungan amarah yang seharusnya sudah pecah, kembali ditimbangi
Untuk apa semua ini? Kenapa hina akan ironi?
Termangu sejenak
kenapa kau masih saja ceroboh dalam betindak, padahal jarakmu akuratnya pun tidak
hendak kemana lagi ini akan dihempas luluh lantakkan, kerahkan teriakan tidak akan mempan
lantas bagaimana? Apa yang harus kuhancurkan? Wajah siapa yang haus dihujam kaki kanan?
Lantas mendongak
itu semua kebencian, perhatikan wajah-wajah yang terbahak, raut-raut senyum manis
-damaikan? 
dedaunan juga, tetap tenang meski angin senantiasa menerjalnya
salahmu sendiri, untuk apa mencintai dengan dini
rindu-rindu konyol selalu ditulisi,
Itu nanti.
perbaiki, perbaiki, perbaiki.
Imanmu sudah lagi rongsok dan beduri
nelangsa, dosa gila itu mintalah ampun-Nya


Maret, kala gerhana matahari Langit Bekasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Eight Poem

Twenty Fourth Poem

First Poem