Postingan

Fourteenth Poem

Rindu; Kontaminasi Hati Kala rindu mengkontaminasi hati Kepada sosok dengan integritas tinggi pada ilahi rabbi Termangu-mangu hingga malam sunyi Munajatlah lagi, agar lebih suci Kala rindu mulai menjadi-jadi liarnya Perangai anggun lagi-lagi membayangi datangnya Ya Allah, rupanya aku jatuh cinta Unggahkan petunjukMu agar aku tidak dibinasakan fana Sepatutnya jika jatuh cinta Dekati dulu pemiliknya, Allah jalla wa 'ala Kemudian dekati yang dimilikiNya Pun keberkahan menaungi sesiapa yang diradang rindu hatinya April. Kala derasnya hujan malam ahad Lhokseumawe 2016

Thirteenth Poem

Munajat Gila   Terlalu mula, sudah lama tak pernah kurasa Hati yang harusnya buta akan nama seorang wanita Tapi entah mengapa itu terucap saja dalam do’a                                       Tidak disengaja, batin membisikkannya Sebenarnya aku sudah benci akan jatuh cinta Mengawang-awang sosoknya yang bahkan belum tentu izinNya Tapi hati ini memaksa untuk merindunya Hingga aku tersiksa, tak tau harus berbuat apa selain mendo’akan namanya Bodoh, gila! Itu bukan rindu, bukan pula cinta Diam saja, jangan bercerita, jangan lagi ada kata-kata tentangnya Ini belum saatnya, nanti juga belum tentu ia Nelangsa, Jangan lagi mendoakan namanya Doakan, pinta saja akan sosok seperti ia Ilahi pasti mendengarnya Cendala, karena masih berkelabut dosa April, kala ger...

Twelveth Poem

Proposalisasi Kelajangan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Tanpa sepengetahuan, selalu aku kekaguman Bukan paras yang menawan, namun tutur laku yang sangat takut pada Tuhan Kulihat aku, malu mengajakmu untuk menatapi bulan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Karena aku bukan jutawan, jauh dari rupawan, kadang makan ku mie instan Sibukku hanya membolak-balik bebukuan tebal berhalaman Kadang Bingung dengan fasihnya huruf dho yang Nabi ucapkan Sekedar menyimak apa yang anak2 bacakan, itu lah keseringan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Kepada Sang Rahman, kuceritakan engkau agar bersamaku dipelaminan Kepada ayahmu, bukan kutawarkan engkau akan kebahagiaan, atau meniti dengan sama2 berjuang menerjal kehidupan Ayahmu tidak bisa dikecewakan, bersusah payah peluh2 keringat ia keluarkan untukmu putrinya yang ia banggakan Sedang aku, menawarkan perjuangan di medan pertempuran, ...

Eleventh Poem

Dawai Sendu Kala malamku adalah sajak-sajak sendu Bait-bait katanya pun pilu Alunannya dipeluk rindu Gemintangnya tersosok bayangan di relungku Betapapun hati ini pilu Inginku tetap pada simponi gelapku Seperti biola yang dimainkan gadis kecil itu Perlahan, alunan dawainya syahdu, menenangkan batinku Eloknya ia memainkan biola yang dipeluknya Pun senyumnya, sesiapa meleleh menatapnya Lembut jari kecilnya memadu nada Tanpa sadar sang lunar mengajak gemintangnya untuk bersenandung bersama April, kala bertaburnya gemintang Sabang 2016

Tenth Poem

Hampir setiap detik lagi Pemajangan eloknya wajah terus diganti Raut-raut imut lucu hingga aurat pun ikut disuguhi Pun liarnya mata lelaki, betahnya ia pelototi Ngakunya muslimah sejati,  dengan alis asli,  tak akan luntur meski sudah wudhu berkali-kali Ya ampun saudari, hati-hati, Allah memuliakan, menjujnjungmu tinggi,  di AlQuran, lihatlah, tidak ada namanya surat lelaki.  Jangan sampai mendapat hinaan nanti,  itu pedih sekali. Bukan aku sudah terlalu suci dan tak bisa berdosa lagi. Tapi, tolonglah mata ini, dengan tidak menyuguhkan lagi, pose-pose seksi, itu cantik sekali, kuakui. Tolong lagi, agar mata ini tidak liar menatapi, Keindahanmu hanya untuk sang suami yang telah halal nanti. berhijablah yang rapi, yang syar'i, yang Allah ajari. Bukan seperti selebriti. Cobalah mempelajari, perlahan, tapi pasti, janji. Februari, kala terangnya Bulan Bekasi.

Ninth Poem

Tertegun sejenak Tertegun sejenak Bagaimana menghempas segala kepenatan yang terus menjerat Gunungan amarah yang seharusnya sudah pecah, kembali ditimbangi Untuk apa semua ini? Kenapa hina akan ironi? Termangu sejenak kenapa kau masih saja ceroboh dalam betindak, padahal jarakmu akuratnya pun tidak hendak kemana lagi ini akan dihempas luluh lantakkan, kerahkan teriakan tidak akan mempan lantas bagaimana? Apa yang harus kuhancurkan? Wajah siapa yang haus dihujam kaki kanan? Lantas mendongak itu semua kebencian, perhatikan wajah-wajah yang terbahak, raut-raut senyum manis -damaikan?  dedaunan juga, tetap tenang meski angin senantiasa menerjalnya salahmu sendiri, untuk apa mencintai dengan dini rindu-rindu konyol selalu ditulisi, Itu nanti. perbaiki, perbaiki, perbaiki. Imanmu sudah lagi rongsok dan beduri nelangsa, dosa gila itu mintalah ampun-Nya Maret, kala gerhana matahari Langit Bekasi.

Eight Poem

Rinduinya. Temaram langit syahdu bersahaja Gumpalan awan gelap terkikis sirna Walau rembulan masih malu membias senyumnya Relungku juga, rindu seperti biasanya Pilu akan di pucuk bersegera Jika jeruji rindu terus saja menghempas perihnya Gemintang saja terabaikan di jauhnya Bagaimana senja? Terusikkan istiqamah yang harus selalu ku ada Berjumpa, tertawa, itu tak boleh menggoda Enyahkan senyuman-senyuman yang menjelma Mampuku, agar terus berdo’a, akan gubahan ceria seketika Karena merindunya Bukanlah sekarang saatnya Pun dia, mungkin merindukan sosok lainnya Atau Allah menyiapkan jelmaan sempurna dari segala do’anya November, kala temaramnya langit malam Jakarta.