Postingan

Eighteenth Poem

Badai-kan Rindu Gemuruh badai mencengkerami malam Nyanyian katak bersahutan, terdiamkan. Langit melemparkan bunga apinya Terhentakkan sesiapa punya pendengarnya Gejala alam? Bukan, semua ini atas perintah Tuhan sang Maha Rahman Semesta ada, semua yang diciptaNya, tanpa sia Mohonlah padaNya, teruskan, tanpa jeda. Untuk perlindungan, gubahkan keberkahan Istiqomahkan dalam ketaatan, walau tidak lagi Ramadhan Juga untuk rindu yang sering menginspirasikan Walau hanya senyuman, terus sujud munajatkan. Lhokseumawe, kala gemuruh badai senja itu. Juli 2016.

Sevententh Poem

Assalamu’alaikum Rindu Assalamu’alaikum Rindu Kenapa hanya jawab dengan senyum itu? Teramat syahdu, Akrab lagi aku dengan sendu Derasnya hujan pilu itu Kemarilah, dekatlah padaku Aku punya payung lucu, Tapi kokoh kerana munajat pada Rabbku Assalamu'alaikum Rindu Nah, manis sekali jawabmu itu. Inilah hatiku, Lebarkan saja lagi senyummu Hujan pilu akan mereda, Pun Allah pelangikan indah jika wajah bertengadah selalu. Takengon, kala sejuknya terik langit laut tawar 2016

Sixteenth Poem

Intimidasi Rindu Kenapa lagi pilu? Kenapa sangat buru? Rindu? Cih, sudah bewudhu saja dulu. Buka lagi mushaf itu Pun sampulnya berdebu Iman dihati itu sudah lemah mendayu Munajat dulu, mintalah dengan sendu agar supaya tenang gelisah pilu Ramadhan ini semakin berlalu Berapa kali sudah menangis mengadu? Dosa-dosa semesta lalu, menggunung tinggi, menahu? Dimana sajadah itu? Segera sujud, mohon ampun dulu. Lhokseumawe, kala gerimis malam Ramadhan Juni 2016

Fifteenth Poem

Romantisasi Do’a Tatkala diamku yang tak mampu Menggapai mimpi sejutaku yang mengeras dalam DNA dan besarang pada sel-sel semesta metabolisme ciptaan Rabbku Dentuman jantung, lembutnya ia, dan akan bara bila seluruh tubuh bergesa atau ketakutanku Hati juga mulia, ia menyaring segala prioritas zat tanpa pandangan kaku disekitar sang paru Duhai Allah Sang Penguasa hati Tiadanya kuasa aku dari Engkau yang membolak-balikkan hati Apalah isinya hanya noda-noda dosa dan segala pengeras pembuat lupa akan mati Segala yang keluar dari pembicaraan adalah apa yang paling banyak menguasai hati, nelangsa, jika itu bukanlah tentang menyebut Nama-Mu Ilahi Rabbi Duhai Allah Sang Penguasa hati Inginku selalu mendekatkan diri, demi menyebut asmaMu dan mengisi hati Walau bahasaku hanya puisi-puisi basi Sembah sujud munajat dan menjutanya semogaku, gubahkan cintaMu untukku agar sirna gelisahnya hati Duhai Allah Sang Penguasa Hati Mudahkn aku dalam istiqamahkan hati Agar...

Fourteenth Poem

Rindu; Kontaminasi Hati Kala rindu mengkontaminasi hati Kepada sosok dengan integritas tinggi pada ilahi rabbi Termangu-mangu hingga malam sunyi Munajatlah lagi, agar lebih suci Kala rindu mulai menjadi-jadi liarnya Perangai anggun lagi-lagi membayangi datangnya Ya Allah, rupanya aku jatuh cinta Unggahkan petunjukMu agar aku tidak dibinasakan fana Sepatutnya jika jatuh cinta Dekati dulu pemiliknya, Allah jalla wa 'ala Kemudian dekati yang dimilikiNya Pun keberkahan menaungi sesiapa yang diradang rindu hatinya April. Kala derasnya hujan malam ahad Lhokseumawe 2016

Thirteenth Poem

Munajat Gila   Terlalu mula, sudah lama tak pernah kurasa Hati yang harusnya buta akan nama seorang wanita Tapi entah mengapa itu terucap saja dalam do’a                                       Tidak disengaja, batin membisikkannya Sebenarnya aku sudah benci akan jatuh cinta Mengawang-awang sosoknya yang bahkan belum tentu izinNya Tapi hati ini memaksa untuk merindunya Hingga aku tersiksa, tak tau harus berbuat apa selain mendo’akan namanya Bodoh, gila! Itu bukan rindu, bukan pula cinta Diam saja, jangan bercerita, jangan lagi ada kata-kata tentangnya Ini belum saatnya, nanti juga belum tentu ia Nelangsa, Jangan lagi mendoakan namanya Doakan, pinta saja akan sosok seperti ia Ilahi pasti mendengarnya Cendala, karena masih berkelabut dosa April, kala ger...

Twelveth Poem

Proposalisasi Kelajangan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Tanpa sepengetahuan, selalu aku kekaguman Bukan paras yang menawan, namun tutur laku yang sangat takut pada Tuhan Kulihat aku, malu mengajakmu untuk menatapi bulan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Karena aku bukan jutawan, jauh dari rupawan, kadang makan ku mie instan Sibukku hanya membolak-balik bebukuan tebal berhalaman Kadang Bingung dengan fasihnya huruf dho yang Nabi ucapkan Sekedar menyimak apa yang anak2 bacakan, itu lah keseringan Duhai engkau pemilik nama anggun yang selalu aku semogakan Kepada Sang Rahman, kuceritakan engkau agar bersamaku dipelaminan Kepada ayahmu, bukan kutawarkan engkau akan kebahagiaan, atau meniti dengan sama2 berjuang menerjal kehidupan Ayahmu tidak bisa dikecewakan, bersusah payah peluh2 keringat ia keluarkan untukmu putrinya yang ia banggakan Sedang aku, menawarkan perjuangan di medan pertempuran, ...